You’re Not The Only One

Scroll instagram, tiba-tiba nemu ini trus nangis (iya ku secengeng itu).

Ingat Ibu dan skripsi yang gak kelar-kelar (iya ku seabsurd itu).

“The world is so cruel, and you’re not the only one who have to face it”

Iklan

Waktu yang Tepat

Oke di postingan sebelumnya aku bilang mau cerita tentang bagaimana pesimisnya aku buat lulus 4 tahun. Sebenarnya bukan pesimis sih, tapi lebih ke pertanyaan memang kenapa kalo gak 4 tahun ?

Aku punya teman kelas, kadang aku sama teman yang lain manggilnya yuchan. Jadi dulu itu entah kenapa teman kelasku seneng banget nyari nama panggilan yang beda daripada yangg lain. Pokoknya mereka mau beda sendiri manggilnya.

Semasa kelas 12, aku dan yuchan ini cukup dekat. Kami sering ngobrol dibawah pohon mangga, membicarakan setelah lulus nanti mau melanjutkan dimana, jurusan apa yang akan diambil. Yah seperti kebanyakan anak SMA di tahun terakhir. 

Kami lulus SMA dan memilih jalan yang berbeda. Berbeda dalam artian kami tidak kuliah di tempat yang sama dan apa yang kami jalani sekarang sungguh berbeda dengan angan-angan yang kerap kali kami ucapkan dibawah pohon mangga. Life is so unpredictable, it doesnt always works like we want to. 

Kendati kami tak satu universitas, beberapa kali kami masih mengobrol via social media (or media social ?). Jika dulu yang kami bahas adalah kegalauan masalah universitas dan jurusan, setelah masuk kuliah we talked bout how we survive ? Percayalah kuliah itu gak kayak di eftivi.

Memasuki semester semester akhir, apalagi yang dibicarakan kalo bukan skripsi, wisuda dan tetek bengeknya. And so do I, I asked yuchan ” Bisa gak kita selesai kuliah tepat waktu ?” Seketika aku mikir tentang ‘tepat waktu’. Lulus tepat waktu itu apakah harus 4 tahun ? Kenapa 4 tahun ? Apa ada yang salah jika kuliah lebih dari 4 tahun ? Apa yang sudah aku dapatkan selama kuliah ? Dan masih banyak lagi pertanyaan sejenis yang terus terngiang dikepalaku. Ya elah aku pikirannya kok ribet. Yah aku orangnya kadang emang kayak gini, ribet. 

Am I too selfish ? Masuk kategori selfish gak sih ketika aku sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut sampai kepikiran buat nunda ngerjain skripsi, dan pada saat yang sama orang tua ngarepin buat bisa lulus 4 tahun. Yes, I am. Jadi semester ini akupun nyoba buat ngambil skripsi. Mungkin dengan ini akan ku temukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku atau setidaknya aku menemukan alasan-alasan lain untuk lulus 4 tahun.

Saat ini aku masih dalam tahap menyusun skripsi, akupun gak tau apakah aku bisa lulus ‘tepat waktu’ seperti keinginan orang tua ku. Tapi setidaknya kali ini aku memutuskan untuk berjuang. Lupakan sejenak konsep tepat waktu versi ku yang belum bisa kutemukan jawabannya.

So yeah semangat skripsian untuk mahasiswa tingkat akhir 😄

Skripsi oh skripsi


(Tulisan random seperti biasa)

Semester 7 dan Skripsi

Aku udah lama banget gak nulis di blog ini. So I came up with my fourth year of college story.

Udah 3 minggu kuliah semester 7 berjalan. Apa yang aku rasakan ? Berasa jadi mahasiswa paling tua di kampus 😅.

Semester 7 ini aku tuh jadi rajin banget di kos, kuliahku cuma beberapa hari aja. Enak donk ya ? Mmm gak juga sih soalnya ada kata skripsi di KRS ku semester ini. Yeah aku ngambil skripsi semester ini, padahal jujur aja aku masih bingung mau ngambil topik apa. But I know I’m not the only one (behhh malah nyanyi lagu Sam Smith) temen-temenku yang lain juga pada kebingungan sih mau ngangkat topik apa. Tapi ada juga temenku yang dari semester kemarin udah mikirin judul skripsinya, jadinya sekarang dia tinggal hubungi calon dosen pembimbingnya (fix, aku yang terlalu males). 

Klik Source

Semester kemarin aku ngambil satu mata kuliah pilihan yang buat aku pribadi kuliah itu menarik. Aku ingat cuma 6 orang yang ngambil, dan yang rajin masuk aku bertiga sama temen seangkatanku (sometimes aku rajin kok 😁). Pernah waktu itu aku sendirian yang masuk, oke sebenarnya berdua tapi temenku yang satu belum nyampe. Dosennya masuk terus kebingungan liat mahasiswanya cuma 1 biji, ehh 1 orang maksudnya. Akhirnya Beliau bilang “Kita diskusi santai aja ya, gimana mau belajar kalo cuma 1 orang.” Saat itu aku bawa contoh skripsi kk tingkat yang kebetulan topiknya dibahas pada mata kuliah ini. Jangan kira bawa skripsi kayak gini nunjukin bahwa aku siap buat skripsian ya, ini dosennya yang minta dibawain. Beberapa waktu yang lalu, dosennya ngusulin topik buat dijadiin judul skripsi, trus aku bilang deh kalo topik itu pernah dibuat skripsi sama kk tingkat. Jadilah aku nyari-nyari skripsi itu di perpustakaan untuk ditunjukin ke Beliau. Setelah diliat-liat Beliau bilang kalau yang dia mau itu berbeda dari skripsi kk tingkat itu, intinya sih mau dikembangkan lagi. Dengan kata lain aku bisa ngangkat topik itu lagi, tentunya pake metode yang berbeda dan dikembangkan lagi tujuan dari penelitian tersebut.

Seharusnya kalo udah kayak gitu aku tuh belajar lebih dalam lagi materi tersebut, semakin giat nyari jurnal terus diskusi sama dosen. Tapi karena aku emang dasarnya pemalas ya gitu deh jadinya. Sampai akhirnya semester 7 tiba dan aku nyentang skripsi pas KRSan. 

Kebingungan pun melanda kami yang pada nyentang skripsi. Setiap ketemu di kampus atau lagi chat ujung-ujungnya nanyain judul skripsi huffttt. Akupun masih males-malesan mikirin skripsi, tapi tetap nanyain yang lain “udah nemu judul skripsi belum ?” Dan ketika dijawab “belum.” Sepenggal lirik lagunya Sam Smith mengalun lagi ‘I know I’m not the only one‘ (udah sampe sana aja liriknya) aku jadinya gak ngerasa sendirian. 

Beberapa hari yang lalu aku memutuskan buat diskusi lagi sama dosenku, mau nanyain lagi topik yang beliau sarankan semester kemarin. Beliau masih excited membahas topik tersebut dan menyetujui buat jadi dosen pembimbing. Aku bahagia donk jadinya 😆. 

Ehhh tapi aku belum ngajuin judul ke prodi, belum mengulang lagi materi-materi yang aku butuhkan untuk menyusun skripsi nantinya, ya kalo judulku diterima juga 😐.

Intinya sih ini baru awal ya, belum apa-apa. Aku gak tau kedepannya bakalan kayak gimana. Berharapnya sih bisa lancar-lancar aja.

O ya lainkali aku bakalan cerita gimana pesimisnya aku buat bisa lulus 4 tahun (ini masih dalam tahap berjuang kok). 

Btw blogku isinya curhatan semua ya 😂😂😂

Mungkin Saja Dia Benar

Seketika rasa penyesalan menggerogotiku. Kenapa aku harus menceritakannya ? akhh tapi kupikir-pikir ceritaku waktu itu belum selesai, ada poin penting yang terlupakan.
Poin yang membuat tokoh ceritaku itu berbeda denganku, aku rasa sih begitu.
Tapi ragu menyapaku, pikirku itu cuma pembelaan dariku.
Lidahku pun kelu untuk bicara.
Pembicaraan ini sudah berulang-ulang kali kami lakukan dan akhirnya pun sama. Aku masih ragu dan bimbang. Ada rasa takut yang menghampiriku, mungkin saja dia benar kalo sebenarnya aku bisa berakhir seperti tokoh yang aku ceritakan tapi aku menolak peluang itu.
“kamu terlalu idealis” ungkapnya.
Tahukah kalo kata itu juga terngiang di otakku dan kini terasa nyata.

Hujan

image
Sumber : amizyo.tumblr.com

“Tumben loh disini ujan, kemarin-kemarin gak.”
“Masa’ sih kak. Bukannya sekarang emang sering ujan.”
“Tapi disini gak, malahan di desa kakak tanahnya pada retak-retak.”
Sepanjang perjalanan tercium bau khas hujan dan ada satu hal yang kusadari bahwa aku merindukan hujan atau lebih tepatnya mandi hujan 😀 .
Hujan kapan terakhir kali berada dibawah guyuranmu menjadi sesuatu yang kunantikan ?

Pesan dalam Mimpi

Hari ini rasanya ada setitik semangat muncul entah darimana. mungkinkah ttg mimpi semalam ? mungkin saja.
Aku bukan orang yang mudah percaya tentang arti dari mimpi. Mimpi begini artinya ini, mimpi begitu artinya itu. Kebanyakan mimpi itu tak ku ambil pusing, seperti kata sebagian orang mimpi itu bunga tidur. Tapi ada juga sebagian mimpi yang membekas di hati tsahhhh.
Mungkin ada baiknya aku bercerita tentang apa yang aku alami sebelum mimpi semalam menghampiri.
Kumulai saja cerita ini dari beberapa bulan yang lalu saat aku secara tidak sengaja melihat status kakak kelasku dulu sewaktu SMA yang sekarang kuliah di I**. Ia update status kalo ia sedang di luar negeri, ahhh luar negeri pengennnn, seketika aku jadi ngiri dibuatnya sama kk itu. Pengen ngepoin tuh kenapa dia bisa ke luar negeri, dia ngapain aja disana, berapa lama dia disana, udah makan apa belum eh eh gak ding. Tapi sayangnya aku cuma tau dia itu pernah satu sekolah, tepatnya kk kelasku. Cuma itu doang gak pernah saling sapa, jadinya aneh kan kalo aku tiba-tiba nyapa dia sok akrab gitu.
Beberapa minggu yang lalu teman sekelasku waktu kelas X update status kalo dia ikut conference itulah, ikut acara inilah hwaaaaa aku jadi iri. Iya iri, pengen juga jadi mahasiswi yang aktif kayak gitu, tapi aku terlalu pemalas dan impian itu cuma jadi angan-angan belaka 😦 .
Dan semalam aku melihat foto-foto temanku yang menjadi panitia sebuah acara, aku gak tau pastinya acara apa yang jelas ada embel-embel internasionalnya.
Aku merasa senang dengan pencapaian teman-temanku, tapi disisi lain aku tidak bisa memungkiri kalo aku juga merasa iri melihat apa yang telah mereka raih. Melihatnya membuatku sedih dan bertanya pada diri sendiri apa yang telah kuraih ? adakah dari impian-impian yang selalu kutulis dengan rapi jadi kenyataan ? apa yang selama ini telah kulalukan ? apakah waktu-waktu itu hanya kubiarkan berlalu saja ? arghhhh. Lihatlah mereka, mereka bisa dan kenapa kamu masih bertahan seperti ini ?

Mimpi itu datang tanpa diharapkan. Mimpi yang cukup aneh menurutku, tapi namanya juga mimpi hal seaneh apapun bisa terjadi.
Dalam mimpi itu aku dipertemukan dengan kk kelasku tsb. Entahlah aku juga heran bisa-bisanya bertemu dalam mimpi padahal dulu gak pernah saling sapa. Dia bahkan mungkin gak tau kalo punya adik kelas sepertiku. yeah He doesn’t even know I exist 😀
Aku lupa detail percakapan kami, terasa samar-samar. Namun sesadarnya dari mimpiku kata-kata ini terus mencuat dari pikiranku
“kamu bisa lin.”
” kamu bisa kok asalkan kamu mau berusaha.”
“ayo lin gunain kemampuanmu.” (lah ini kayak aku punya kemampuan super aja :D)
kata-kata itu membuatku sedikit bersemangat dan menghadirkan setitik kebahagiaan 🙂